Archives
Empat orang penting mengirim surat itu. Charles Schumer, Michael Bennet, Mark Begich dan Al Franken. Mereka adalah senator berpengaruh di Amerika Serikat. Surat itu dikirim tanggal 27 April 2010.
Si penerima surat adalah Mark Zuckerberg, anak muda pendiri Facebook, yang kini memiliki hampir 500 juta pengikut di seluruh jagat. Empat senator itu mengecam keras situs jejaring sosial itu. Facebook dituding secara sengaja mengumbar profil pengguna ke segala penjuru.
Mark sesungguhnya sudah lazim menerima protes. Jurusnya selalu sama. Abaikan. Tapi kali ini lain. Bersikap remeh, bisa berujung kiamat. Jurus para senator itu bisa membunuh. Mereka memaksa komisi perdagangan Amerika menindak Facebook.
Sehari sebelum mengirim surat itu, Charles Schumer menuntut Komisi Perdagangan Federal (FTC) menerbitkan aturan baku bagi semua situs jejaring sosial.
Dia juga mendesak komisi itu segera menyelidiki sejumlah situs jejaring sosial yang doyan mengumbar data para pengguna. Penelitian itu penting, kata Schumer, “Memastikan para penguna bisa menjaga rahasia.”
Walau ditujukan kepada semua situs jejaring sosial, sasaran bidikan Schumer sesungguhnya adalah Facebook. Hal itu diperjelas dalam surat yang kemudian dikirim ke Zuckerberg itu.
Facebook dianggap bukan saja mengumbar rahasia pengguna, tapi juga rajin menjual data-data pengguna kepada pihak ketiga untuk kepentingan bisnis.
Jual data pengguna itu dilansir sepekan sebelum para senator itu mengirim surat. Dalam ajang F8 Facebook Developer Conference yang digelar di San Francisco Amerika Serikat, petinggi Facebook mengumumkan sistem Open Graph API kepada para pengembang bisnis.
Dalam sistem ini, Facebook membuka fitur baru bernama Istant Personalization. Fitur baru ini adalah pintu masuk untuk mitra bisnis Facebook -- seperti Microsoft Docs.com, Pandora, danYelp –untuk mengakses data pengguna di seluruh dunia.
Data itu sangat diperlukan untuk pengembangan bisnis. Penguna data itu akan meraup untuk besar. Tidak percaya? Dengarlah cerita juru bicara Facebook ini.
Cerita itu dipublikasikan Wall Street Journal pekan lalu. Sang juru bicara mengaku bahwa Facebook pernah melepaskan data pengguna ke perusahan iklan. Lewat data itu, si perusahaan iklan bisa melihat siapa pengguna yang mengklik iklan mereka. Dengan mengetahui para pengklik itu, si perusahaan bisa merancang iklan berikutnya secara efektif.
Membuka data kepada pihak ketiga itulah yang dikritik keras empat senator dalam surat mereka. Mereka menulis, “Dear Mr. Zuckerberg, Kami mengirim surat ini untuk menyampaikan keprihatinan kami terkait perubahan terbaru kebijakan privasi Facebook dan penggunaan data pribadi untuk pihak ketiga.”
*****
Main umbar data pengguna ini, sesungguhnya bermula dari tanggal 9 Desember 2009. Saat itu Facebook mulai menerapkan sistem Opt Out. Ini sistem yang membuka semua data pribadi pengguna. Kecuali jika si pengguna mau merahasiakan.
Padahal sebelumnya Facebook begitu rapat menutup data pribadi itu. Kecuali kalau si pengguna mau menampilkannya. Artinya, secara teknis data-data seperti foto profil, jenis kelamin, asal kota, dan lain-lain tidak bisa dilihat orang, jika si pengguna tidak mempublikasikan.
Dengan sistem Opt Out tadi, semua data itu dengan gampang bisa ditengok publik dari seluruh jagat. Bahkan dengan gampang pula bisa ditelusuri lewat Google dan situs pencari lain.
Sistem baru itu diberlakukan semenjak pengguna Facebook membludak ke bilangan 350 juta orang. Jumlah itu memang sangat seksi untuk bisnis.
Mengetahui profil, kecenderungan dan hobi manusia sebanyak itu sangat diperlukan sejumlah perusahaan iklan. Tapi jika pengguna merahasiakan profil mereka, sulit mengetahui kencenderungan dan hobi itu.
Itu sebabnya semenjak akhir tahun lalu, Facebook gencar memaksa penggunanya membuka data pribadi mereka. Rupa-rupa cara ditempuh. Pengguna diwajibkan mengisi data profil, lalu mempublikasikannya.
Facebook memang tetap menyediakan pilihan bagi pengguna untuk menutup profil mereka. Kecuali hanya untuk dibaca kekasih, teman dan handai taulan. Tapi untuk menutup profil itu dari mata publik, prosesnya rumit dan sangat menjengkelkan.
Si pengguna harus melewati 50 tahap pengaturan, dengan 170 opsi. Privasi untuk album foto, misalnya, harus dilakukan satu demi satu.
Bayangkan, jika Anda memiliki 1000 foto yang dipasang di album Anda di Facebook, dan Anda ingin merahasiakan foto-foto itu, maka Anda harus menyetelnya satu demi satu.
Selainj rumit, cara untuk merahasiakan profil itu sangat panjang. Menurut catatan New York Times, pernyataan privasi Facebook yang dikeluarkan tahun 2010, sangat panjang. Jumlahnya 5.830 kata. Meningkat tajam dari tahun 2005, yang hanya 1.004 kata.
Pernyataan privasi Facebook itu terpanjang dari semua situs jejaring sosial yang ada. Bandingkan dengan Flickr yang hanya 384 kata, Twitter 1.203 kata, Friendster 1.977 kata, MySpace 2.290 kata.
Bahkan bila dibandingkan dengan konstitusi Amerika Serikat –yang jumlahnya cuma 4.543 kata—pernyataan privasi itu masih lebih panjang.
Lantaran begitu panjang dan rumitnya prosedur itu, banyak pengguna yang tidak pernah mengubah pengaturan privasinya. Artinya, profil mereka di Facebook tetap terbuka dan tidak menutupnya dari publik.
Director of Corporate Communications and Public Policy Facebook, Barry Schnitt, memastikan bahwa sekitar 85 persen pengguna tak pernah mengubah pengaturan privasi itu.
Mark Zuckerberg sendiri membantah bahwa pengunaan data itu untuk kepentingan bisnis. Ini adalah evolusi baru dalam hubungan antara manusia. Lima, enam tahun belakangan, “Orang-orang tak hanya nyaman untuk berbagi lebih banyak informasi yang lebih bervariasi, namun juga lebih terbuka dengan lebih banyak orang.” kata Zuckerberg dalam wawancara dengan TechCrunch.
Apa yang dikemukakan oleh Zuckerberg agaknya sulit dipercaya, terutama setelah Schnitt bersaksi kepada ReadWriteWeb. Saat para pengguna bertemu teman-teman mereka di Facebook, dan saling lebih mengenal , kata Schnitt, mereka akan menemukan nilai lebih dari situs ini. Mereka akan selalu setia untuk kembali. Dia menambahkan, “Anda bisa bayangkan konsekuensi bisnis dari hal itu."
Organisasi pembela hak konsumen di Amerika Serikat menilai, “ Facebook terus memanipulasi pengaturan privasi untuk tujuan komersial," kata Marc Rotenberg, Executive Director Electronic Privacy Information Center.
Bukan cuma dalam urusan privasi, Facebook juga dihujat sistem jejaring sosial ini mudah bocor. Tanggal 25 Februari lalu, misalnya, pesan pribadi seorang pengguna nyasar ke alamat lain. Tanggal 5 Mei, pengguna bisa melihat isi percakapan chating para pengguna lain. Kebocoran itu memaksa Facebook sempat menutup layanan chating.
Yang terbaru adalah pada 11 Mei. Fitur 'Instant Personalization' terganggu. Fitur itu bisa dimanfaatkan peretas mengungkap nama pengguna, alamat email mereka, dan data-data Facebook. Kebobolan itu memaksa mitra Facebook, Yelp, menutup sementara fitur Instant Personalization ini.
*****
Privasi yang diumbar, data yang gampang dibobol hacker,memang membuat banyak orang berang. Selain para senator itu, sepuluh organisasi yang peduli dengan privasi di Amerika Serikat mengirim pengaduan ke FTC.
Sejumlah tokoh terkenal, jurnalis, dan sejumlah blogger berbondong-bondong cabut dari Facebook. Jika Anda ingin mengetahui pada pemrotes ini, ketik saja ‘Respect My Privacy’ pada mesin pencari Facebook. Lusinan grup pemrotes akan terlihat.
Di luar Facebook, banyak juga kelompok yang menyerukan boikot, (http://facebookprotest.com), mengajak orang minggat dari jejaring sosial itu (http://quitfacebookday.com).
Banyak pengguna berbondong-bondong pensiun dari Facebook. Pencarian “How do I delete my facebook account,” menjadi salah satu frase terpopuler di Google.
Riset mutakhir perusahaan keamanan komputer Sophos, menunjukkan bahwa sekitar 60 persen pengguna Facebook mempertimbangkan untuk berhenti.
Facebook memang sudah menolong banyak orang. Mempertemukan kawan lama. Menemukan jodoh. Ajang untuk promosi bisnis. Dan cara baru menggalang kepedulian sosial. Tapi banyak pula penjahat yang dengan gampang memburu korban lewat situs ini.
Dengarlah kisah Stefani Abelina Tiur Napitupulu, siswi SMAN 22 Surabaya, Marietta Nova Triana siswi SMPN 5 Sidoarjo dan Tri Nurhayati perempuan 20 tahun asal Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul. Mereka diculik oleh orang yang dikenalnya lewat Facebook.
Perkenalan lewat Facebook merenggut nyawa Nona Belomesoff, dara Australia 18 tahun. Diiming-imingi dengan penawaran pekerjaan, Nona dibunuh oleh pria yang sengaja membuat akun Facebook palsu.
Kasus ini orang ramai terhenyak. Bahwa data-data dan foto pribadi yang terpublikasi di Facebook bisa dimanfaatkan oleh siapa saja. Termasuk seorang penjahat.
Di protes dari sana-sini, petinggi Facebook menggelar rapat pekan ini. Pengaturan privasi yang berbelit akhirnya disederhanakan. Dari 50 pengaturan menjadi 15. Sejumlah tombol juga disederhakan. Pengguna kini mudah merahasiakan profilnya.
Facebook memang berkembang pesat. Ditengah hujatan dari segala penjuru itu, peringkat Facebook terus melangit. Menurut data trafik web yang dirilis Google, Jumat 28 Mei 2010, situs jejaring sosial ini dikunjungi 540 juta orang. Jumlah itu merupakan 35 persen populasi pengguna internet di seluruh dunia.
Data global Google Ad Planner yang disediakan oleh Double Click menunjukkan bahwa sekitar 570 miliar laman di Facebook.com disambangi orang.
Kekuatan yang besar itu, tulis empat senator Amerika Serikat kepada Mark Zuckerberg, “Harus disertai tanggjungjawab yang besar kepada penggunanya."sumber : www.vivanews.com
![]()
ComScore Inc, lembaga riset global khusus dunia digital, baru-baru ini merilis laporan anyar seputar pengeluaran warga Amerika Serikat untuk berbelanja di dunia maya atau e-commerce.
Dibanding tahun lalu, pada kuartal I 2010, nilai penjualan ritel e-commerce di negara adikuasa itu diperkirakan menyentuh angka US$ 34 miliar, naik 10 persen dibandingkan periode sama pada tahun lalu.
Namun, kondisinya jauh berbeda dengan Indonesia. David Audy, Head of Investor Relations MNC Online Division memproyeksi, transformasi belanja konvensional ke arah e-commerce justru baru mulai tahun depan di Tanah Air.
"Saat ini, saya kira masyarakat masih belum siap. Mungkin sebagian besar dari mereka masih menganggap belanja konvensional jauh lebih aman dan nyaman. Sehingga, perlu ada edukasi," ungkap David.
Ke depan, dia sangat yakin, e-commerce memiliki potensi yang sangat besar untuk digarap. Populasi penduduk Indonesia yang nyaris mencapai 250 juta penduduk menjadi faktor utama. "Sekitar 15-20 persen dari total populasi penduduk, atau sekitar 35-50 juta orang di Indonesia kini sudah menyentuh Internet," ia menerangkan.
"Dibandingkan Singapura, meskipun penetrasinya 50 persen, market size-nya masih jauh di bawah Indonesia, karena populasinya sedikit," imbuh David.
Untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap e-commerce, menurut David, seharusnya para pemain e-commerce lebih jor-joran dalam promosi, dan edukasi ke pasar. "Pasar sudah ada, tinggal pemasarannya saja bagaimana," ucapnya.
"Kita tunggu saja tahun 2011. Semua elemen dalam ekosistem mulai bekerja, termasuk penyelenggara e-commerce seperti Rakuten, bank-bank sebagai mitra penyedia platform pembayaran online, pembeli dan penjual," ujar David optimis.
sumber: www.vivanews.com
en-Hsun Huang, Chief Executive Officer Nvidia, memperkirakan produsen hardware akan bersatu di belakang Google Android sebagai sistem operasi utama untuk komputer tablet.
Tablet komputer sendiri akan menjadi salah satu produk unggulan di ajang pameran komputer kedua terbesar di dunia yakni Computex Taipei yang berlangsung mulai 1 sampai 5 Juni 2010.
Sebagian besar produsen komputer akan memperkenalkan tablet PC mereka, dengan sebagian di antaranya didesain untuk menjalankan sistem operasi Android, dan sebagian lainnya menggunakan Windows. Meski demikian, menurut Huang, Windows bukanlah pilihan terbaik untuk Tablet.
“Windows terlalu besar dan terlalu dipenuhi banyak fitur untuk perangkat seperti smartbook dan tablet,” kata Huang, seperti dikutip dari PCWorld, 1 Juni 2010.
Sebagai informasi, smartbook merupakan nama untuk laptop murah yang menggunakan prosesor ARM, bukan prosesor berbasis x86 buatan Intel ataupun AMD.
“Kabar gembiranya, kini kita memiliki sistem operasi yang bisa kita dukung bersama-sama. Android merupakan OS yang telah mendapatkan momen yang tepat dan dikenal di seluruh dunia,” kata Huang.
Keberhasilan iPad membuktikan bahwa kebutuhan untuk perangkat tablet sangat tinggi dan Apple telah meningkatkan standar kualitas untuk kompetitor-kompetitor mereka.
“Menyamai keberhasilan Apple bukanlah hal yang mudah dan produsen hardware perlu melakukan modifikasi untuk mengoptimalkan Android pada perangkat tablet komputer mereka,” kata Huang.
sumber :www.vivanews.com
![]()
Sebuah grup pemrotes kebijakan privasi Facebook mengatakan, lebih dari 30 ribu orang telah mengikuti seruan untuk menutup akun mereka di situs jejaring sosial terkemuka itu pada Senin 31 Mei 2010.
Grup dengan nama akun ‘Quit Facebook Day’ tersebut menyebutkan bahwa hingga pukul 23.00 GMT, 32.749 akun Facebook telah ditinggalkan pemiliknya di seluruh dunia. "Bagi kami, tersisa dua hal yakni pilihan-pilihan adil dan maksud baik. Dalam pandangan kami, Facebook tidak melakukan sesuatu yang baik,” kata pengelola grup yang tidak mengungkapkan identitas mereka.
“Facebook memberi kita pilihan bagaimana mengelola data, tetapi tidak menyediakan pilihan-pilihan yang adil,” lanjutnya, seperti dikutip dari laman Channel News Asia, 1 Juni 2010.
Menurut data Google, Facebook.com dikunjungi oleh 540 juta orang tiap bulan. Jumlah itu mencapai sekitar 35 persen dari populasi internet.
Saat ini, Facebook telah mengubah setting kontrol privasi mereka. Perubahan dilakukan setelah menghadapi rentetan kritik yang menyebutkan bahwa mereka mengkhianati kepercayaan yang telah membuat situs itu menjadi jaringan sosial terbesar di dunia.
Kini laman setting privasi menyediakan kontrol tunggal dan secara signifikan mengurangi jumlah muatan informasi yang biasanya bisa dilihat oleh pengguna lain.
sumber : www.vivanews.com
![]()
Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang paling banyak digunakan kelima di situs jejaring sosial Facebook. Berdasarkan laporan terkini mengenai studi bahasa dalam situs sosial Facebook, bahasa Indonesia ada di bawah bahasa Inggris, Spanyol, Prancis, dan Turki.
Survei yang dilakukan perusahaan penelitian Inside Network mengatakan, lebih dari 20 juta penutur bahasa Indonesia menggunakan Facebook.
Bahasa paling populer di Facebook adalah Bahasa Inggris dengan 52 persen. Di tempat kedua dengan jarak cukup jauh diduduki Bahasa Spanyol dengan varian-variannya sebanyak 15 persen. Berikutnya berturut-turut adalah Bahasa Turki, Prancis, dan Indonesia dengan masing-masing sekitar 5 persen dari pengguna.
Kemudian, menyusul Bahasa Italia dengan 3,9 persen dan Jerman dengan sekitar 2,7 persen. Bahasa paling populer di Facebook berikutnya adalah Bahasa China dan Portugis. Jumlah pengguna Facebook sendiri secara keseluruhan mencapai 400 juta orang.
Bahasa Indonesia juga menjadi satu-satunya bahasa di Asia Tenggara yang mampu menembus lima besar bahasa terpopuler di Facebook. Padahal, kondisi infrastruktur telekomunikasi di Indonesia belum sebaik negara lain di Asia. Selain itu, akses komputer di tanah air juga masih sangat terbatas bagi 234 juta penduduk Indonesia.
Menurut Inside Facebook yang berbasis di California, Amerika Serikat, kondisi ini menciptakan peluang untuk mengeruk keuntungan dari negara yang bahasa nasionalnya banyak digunakan.
“Seiring dengan perkembangan Facebook di seluruh dunia, dan dengan bertambahnya para pengguna baru di negara-negara luar AS, bahasa yang digunakan pengguna Facebook merupakan faktor penting bagi pelaku dan pengembang pasar,” kata juru bicara Inside Network, seperti dikutip dari InsideFacebook, 1 Juni 2010.
Inside Network juga menekankan betapa pentingnya menyesuaikan situs Facebook dengan budaya dan nilai-nilai setempat.
sumber : www.vivanews.com



